Di tengah tekanan ekonomi global yang tak menentu, provinsi Jawa Timur (Jatim) berhasil menunjukkan ketahanan ekonomi yang tangguh.

Meski dibayangi fluktuasi harga komoditas dunia, tensi geopolitik, dan dampak kebijakan luar negeri, perekonomian Jawa Timur tetap tumbuh solid dengan capaian 5 persen (yoy) pada triwulan I 2025.

Baca Juga:
Gempur Rokok Ilegal di Surabaya, 500 Batang Disita dari Toko Kelontong

Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jatim, Dudung Rudi Hendratna, menyampaikan bahwa hingga Mei 2025, realisasi pendapatan negara di Jawa Timur telah mencapai Rp97,8 triliun atau 34,64 persen dari target tahunan sebesar Rp282,65 triliun.

Menurut Dudung, angka ini menempatkan Jatim sebagai penyumbang terbesar kedua Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Pulau Jawa setelah DKI Jakarta, dengan kontribusi mencapai 25,11 persen.

Kode Iklan (Setelah Paragraf ke-3)

Baca Juga:
Ribuan Sopir Truk Geruduk Surabaya, Protes ke Khofifah Soal Aturan ODOL dan Revisi UU LLAJ

“Kita bersyukur, meskipun dihadapkan pada fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian global seperti perang Iran-Israel dan naiknya suku bunga AS, perekonomian Jatim tetap tangguh. Bahkan inflasi di bulan Mei hanya 1,22 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional 1,60 persen,” kata Dudung, dalam konferensi pers ALCo Regional Jawa Timur di Gedung Keuangan Negara (GKN) II, Surabaya, pada Jum’at, 20 Juni 2025.

Ad Content

Baca Juga:
Pemkot Surabaya Terima Hibah Aset Koruptor Senilai Rp5,3 Miliar dari KPK

Sebagai informasi, dalam kegiatan ALCo Regional Jawa Timur di Gedung Keuangan Negara (GKN) II, Surabaya itu turut dihadiri jajaran petinggi di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Perwakilan Jawa Timur, antara lain Kepala Kanwil DJP Jawa Timur I Samingun, Kepala Kanwil DJP Jawa Timur III Untung Supardi, serta akademisi dari Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Rudi Purwono, SE, M.SE.

Lanjutnya, untuk penerimaan perpajakan tercatat mencapai Rp39,38 triliun atau 34,07 persen dari target tahunan Rp94,4 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor industri pengolahan senilai Rp23,07 triliun (58,6 persen).

Baca Juga:
UNAIR Berhasil Naik Peringkat 287 Kampus Terbaik Dunia Versi QS WUR 2025

Sementara itu, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menyumbang Rp55,09 triliun, terdiri dari cukai Rp52,41 triliun dan bea keluar yang bahkan melampaui target, yaitu mencapai 229,9 persen berkat ekspor produk turunan CPO.

“Untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga mengalami penguatan, yakni Rp3,42 triliun (64,11 persen dari target tahunan), terutama dari sektor pertanahan, penerbitan STNK, pendapatan jasa pelabuhan, pendapatan paspor, dan pendapatan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor,” ucap Dudung

Aktifkan Iklan di Bawah Konten